Hilangnya Kartu Nama Saya
Sebuah Pandangan tentang Kehidupan berdasarkan kisah nyata mollit elit.
Hari itu tim kita mengunjungi kantor salah satu klien kita. Kedatangan tim kita diterima oleh “contact person” kita di klien tersebut. Sebut saja nama beliau “Mbak J”.
Seminggu sebelum kunjungan tersebut, tim Creative Design kita yang sangat kreatif itu telah membuat purwarupa kartu nama untuk kita. Memang masih berupa usulan untuk dibawa dalam pembahasan rapat Pengurus dan Anggota selanjutnya.
Dengan dalih untuk keperluan “riset” dan “ujicoba”, saya langsung mencetak purwarupa yang ada nama saya di printshop langganan saya. Mulai format kartu nama satu kotak, ID card sampai e-Money, saya cetak kartu nama saya tersebut. Narsis ya saya?
Nah, ketika berjumpa dengan Mbak J, saya segera mengeluarkan kartu nama saya untuk diberikan kepada beliau.
Dengan segala protokol kartu nama, saya serahkan kartu nama tersebut kepada Mbak J. Saya menyerahkan kartu nama dengan memegangnya dengan kedua tangan saya. Badan sedikit membungkuk.
Mbak J pun menerima kartu nama dengan segala protokol kartu nama. Kedua tangan menerima. Badan sedikit membungkuk sembari mengucapkan “Terima kasih”.
Mbak J berbaik hati menyediakan makan siang buat tim kita yang berkunjung. Setelah selesai urusan hari itu, kami pun menikmati makan siang bersama Mbak J.
Setelah selesai makan siang, Mbak J terlihat mencari-cari sesuatu di meja.
Ternyata kartu nama yang telah saya berikan hilang.
Tim kami pun ikut mencari-cari kartu nama tersebut. Bahkan setiap kotak makan siang pun tidak luput dari pemeriksaan.
Akhirnya daripada repot-repot, saya pun mengeluarkan kartu nama lagi untuk Mbak J. Sekali lagi saya menyerahkan kartu nama kedua itu dengan segala protokolnya. Dan Mbak J pun menerimanya dengan segala protokolnya.
Seminggu kemudian, dalam rapat Pengurus, ketua tim kita yang berkunjung ke tempat Mbak J baru mengakui perbuatannya. Ternyata dialah yang mengambil kartu nama yang saya serahkan kepada Mbak J. Katanya sih tidak sengaja.
Kita semua yang hadir dalam rapat tersebut tertawa terbahak-bahak.
Sepuluh tahun dari sekarang saya tidak akan ingat apa persisnya proyek yang kita kerjakan buat perusahaan Mbak J. Saya tidak akan ingat lagi betapa susahnya membuat content untuk di-deliver serta mengurus administrasi terkait proyek tersebut seperti Purchase Order, Invoice, dan faktur pajaknya di Coretax.
Yang bakalan teringat hanyalah momen-momen kebersamaan mengerjakannya termasuk mencari-cari kartu nama saya yang hilang serta tertawa terbahak-terbahak mendengar pengakuan ketua tim kita yang mengambilnya.
Demikian itulah hidup ini.
“What does it mean to be a human being?”
Kalau ada yang menanyakan itu, saya akan menjawab, “It is all about our stories and our relationships”.
Detail-detail dan tetek bengek dalam hidup kita akan terlupakan. Yang terkenang justru cerita-cerita dan hubungan kita yang berkesan (ataupun yang traumatis).
Dulu waktu kuliah saya sempat belajar bahasa Assembly (dan juga Cobol, Fortran, dan Pascal). Ketahuan deh saya setua itu.
Tugas akhir mata kuliah Bahasa Assembly adalah membuat Bubble Sort. Memakai Pascal atau C, tugas seperti ini kelar dalam lima menit. Tapi tidak dalam Assembly. Paling tidak bagi saya.
Saya mengetik source codenya dalam satu hari. Tapi saya menghabiskan satu minggu untuk debuggingnya. Masalahnya eksekusi program saya selalu berakhir dengan “Abend” (Abnormal End) alias gagal total tanpa alasan yang jelas.
Satu minggu habis telah saya habiskan untuk debugging tapi program Bubble Sort saya tetap “Abend”. Menyerah dan bingung, saya pun konsultasi dengan dosen pengajar Bahasa Assembly.
Beliau berbaik hati membantu saya. Dengan sabar beliau baca source code saya line by line. Berapa dugaan beliau sampaikan. Kami eliminasi satu per satu sampai mengerucut kepada root cause-nya. Akhirnya program saya bisa berjalan dengan benar tanpa error.
Hari ini saya sudah lupa apa itu Bahasa Assembly. Saya sudah lupa apa itu Bubble Sort. Tapi tetap terkenang kebaikan hati Pak Dosen saya itu yang dengan sabar men-debugging source code saya meskipun di luar kantornya ada antrean mahasiswa lain yang hendak berkonsultasi dengan beliau.
Semangat seperti inilah yang seyogyanya kita upayakan dalam service delivery.
Bukankah itu esensi pendidikan yang sebenarnya? Jadi bukan soal register mana yang mau dipakai dalam source code Assembly, algoritma yang paling optimum untuk Bubble Sort tapi bagaimana menjadi “human being” dengan “stories” dan “relationships” yang lebih “meaningful”.
Kalau memang betul pada akhirnya yang teringat di kemudian hari hanyalah “stories” dan “relationships” maka kita harus memastikan bahwa “stories” dan “relationships” kita berkesan.
Hadir utuh, sadar penuh dalam setiap momen. Jalankan sepenuh hati.
Kata Jiddu Krishnamurti (silahkan ditanyakan ke AI siapa beliau), “A single stone can alter the course of a river”.
Are you that stone?